Segala sesuatu dimuka bumi ini akan terus berkembang,yang
dari kec il menjadi besar ,yang dari bayi menjadi tua .Semuanya kan berubah
dari waktu ke waktu.Begitu pula yang kita sebut dengan iman yang selalu
berkembang ,tumbuh terus . Iman laksana perjalanan hidup yang terkadang stabil,
terombang ambing bahkan terkadang kita meninggalkan iman itu seperti rumah tua
yang tak terawat.Iman butuh perawatan yang istimewa.Iman bukan seperti
kendaraan yang terkadang harus ganti oli,turun mesin dan perawatan rutin
bulanan . Iman hanya butuh “saya tahu dan mau “menjalani apa yang saya
inginkan.
Saya puas terlahir dengan “label “ iman pemberian dari orang tua ,mereka tentunya tidak salah dalam urusan iman ,mereka menjadi panutan bagi kelangsungan hidup saya.Warisan yang teristimewa dari orang tua adalah “iman”yang mereka miliki .Ketika masih dalam kandungan , kedua orang tua sudah sertakan kita dalam perjalanan iman ,dalam doa mereka kepada sang ilahi, disaat sembilan bulan dalam kandungan bunda ,mereka berdoa kepada Nya ,memohon kepada Nya .Iman mereka yang menolong saya terlahir dengan apa adanya saya sebagai manusia yang unik.Tidak hanya dalam peristiwa kelahiran dan semuanya selesai , mereka menyertai saya dalam setiap perjalanan karya iman.Iman laksana kebutuhan pokok yang tumbuh berkat tangan .pikiran ,hati dan perbuatan kita yang membuatnya menjadi tumbuh subur. Iman tidak hanya dengan duduk merenungi nasib dikala tertimpah musibah baru kita hendak mencari iman .Iman bukan hanya untuk satu waktu , bukan untuk kebutuhan sesaat.Tak kenal iman maka tak sayang iman.
Ketika tumbuh dewasa menjadi manusia yang sudah bisa berpikir bahkan sudah bisa mengutak atik iman, mulailah kita berexperimen dengan yang namanya “iman “.Ada yang mengatakan “iman” ini sangat sesuai dengan saya ,ada pula berpindah “iman” nya lalu mengatakan iman yang lama tidak sesuai dengan “iman “ barunya. Ada yang berulang kali gonta ganti iman layaknya memilih pakaian .Bajuku dulu tampak jadul dan sekarang tampak modis ,iman yang dulu terasa hanya masuk rumah ibadah lalu keluarnya tak terasa apa apa sedangkan iman yang baru masuk rumah ibadah dan keluarnya masih terasa seperti dalam rumah ibadah.Bongkar pasang iman seperti layaknya modifikasi kendaraan.Semua iman menjanjikan keselamatan tapi saya tetap mengingat tentang yang membawa keselamatan itu adalah datang dari kedua orang tuaku yang menyertakan iman mereka dalam hidupku.
Ada seorang sahabat baikku yang datang kepadaku sambil berkisah “ kawan saya baru mengalami musibah beruntun ,ibuku meninggal sembilan bulan yang lalu dan disusul ayahku sebulan kemudiannya ,aku kehilangan pekerjaan dan adikku pindah ke Kalimantan ikut suaminya. Saya sendirian disini .Dan yang terjadi pada saya adalah saya jatuh sakit ,sempat kurus kering seperti mayat hidup ,sebulan saya berada dirumah sakit .Dalam masa perawatan saya sempat didoakan oleh seorang yang beda imannya dengan saya dan agama itu adalah agama yang kamu imanin .Saya sangat berterima kasih kepadanya yang telah mendoakan saya meski saya sekarang masih setia dengan iman saya .Doa dari yang beda iman untuk saya tidak akan pernah mengubah iman saya .Saya tetap beriman yang sama karna iman yang diberikan orang tua kepada saya adalah baik untuk saya dan mungkin dulunya saya yang kurang beriman dengan iman itu sekarang berkembang menjadi lebih matang.Disaat saya terjatuh, itu karna ujian dari Tuhan dan orang lain yang menolong saya dengan beda iman adalah cara Tuhan untuk menolong saya .Disaat saya terjatuh dan harus bangkit berdiri tentunya harus dengan iman yang sama ,disaat ku dijurang kelam saya bersamanya dan disaat diatas gunung yang tinggi aku tetap bersamanya bahkan didataran yang indah saya kan selalu bersama iman yang sama.Saya tidak akan meninggalkan imanku .
Iman bukan tentang jagonya atau hebatnya seorang pengkotbah berkisah tentang kasih Tuhan ,atau Iman bukan tentang hebatnya seorang yang mampu mengubah arah iman terbaru saya, penawaran terbaik dari Tuhan yang saya imani hanyalah “percalah pada Ku “ yang kubutuhkan “bukan untuk mengubah iman orang lain tuk menjadi bagian dalam iman saya tapi memberikan imanku untuk orang lain tanpa mengubah iman sesorang” Kemerdekaan beriman.
============ untuk bathinku ======================
Saya puas terlahir dengan “label “ iman pemberian dari orang tua ,mereka tentunya tidak salah dalam urusan iman ,mereka menjadi panutan bagi kelangsungan hidup saya.Warisan yang teristimewa dari orang tua adalah “iman”yang mereka miliki .Ketika masih dalam kandungan , kedua orang tua sudah sertakan kita dalam perjalanan iman ,dalam doa mereka kepada sang ilahi, disaat sembilan bulan dalam kandungan bunda ,mereka berdoa kepada Nya ,memohon kepada Nya .Iman mereka yang menolong saya terlahir dengan apa adanya saya sebagai manusia yang unik.Tidak hanya dalam peristiwa kelahiran dan semuanya selesai , mereka menyertai saya dalam setiap perjalanan karya iman.Iman laksana kebutuhan pokok yang tumbuh berkat tangan .pikiran ,hati dan perbuatan kita yang membuatnya menjadi tumbuh subur. Iman tidak hanya dengan duduk merenungi nasib dikala tertimpah musibah baru kita hendak mencari iman .Iman bukan hanya untuk satu waktu , bukan untuk kebutuhan sesaat.Tak kenal iman maka tak sayang iman.
Ketika tumbuh dewasa menjadi manusia yang sudah bisa berpikir bahkan sudah bisa mengutak atik iman, mulailah kita berexperimen dengan yang namanya “iman “.Ada yang mengatakan “iman” ini sangat sesuai dengan saya ,ada pula berpindah “iman” nya lalu mengatakan iman yang lama tidak sesuai dengan “iman “ barunya. Ada yang berulang kali gonta ganti iman layaknya memilih pakaian .Bajuku dulu tampak jadul dan sekarang tampak modis ,iman yang dulu terasa hanya masuk rumah ibadah lalu keluarnya tak terasa apa apa sedangkan iman yang baru masuk rumah ibadah dan keluarnya masih terasa seperti dalam rumah ibadah.Bongkar pasang iman seperti layaknya modifikasi kendaraan.Semua iman menjanjikan keselamatan tapi saya tetap mengingat tentang yang membawa keselamatan itu adalah datang dari kedua orang tuaku yang menyertakan iman mereka dalam hidupku.
Ada seorang sahabat baikku yang datang kepadaku sambil berkisah “ kawan saya baru mengalami musibah beruntun ,ibuku meninggal sembilan bulan yang lalu dan disusul ayahku sebulan kemudiannya ,aku kehilangan pekerjaan dan adikku pindah ke Kalimantan ikut suaminya. Saya sendirian disini .Dan yang terjadi pada saya adalah saya jatuh sakit ,sempat kurus kering seperti mayat hidup ,sebulan saya berada dirumah sakit .Dalam masa perawatan saya sempat didoakan oleh seorang yang beda imannya dengan saya dan agama itu adalah agama yang kamu imanin .Saya sangat berterima kasih kepadanya yang telah mendoakan saya meski saya sekarang masih setia dengan iman saya .Doa dari yang beda iman untuk saya tidak akan pernah mengubah iman saya .Saya tetap beriman yang sama karna iman yang diberikan orang tua kepada saya adalah baik untuk saya dan mungkin dulunya saya yang kurang beriman dengan iman itu sekarang berkembang menjadi lebih matang.Disaat saya terjatuh, itu karna ujian dari Tuhan dan orang lain yang menolong saya dengan beda iman adalah cara Tuhan untuk menolong saya .Disaat saya terjatuh dan harus bangkit berdiri tentunya harus dengan iman yang sama ,disaat ku dijurang kelam saya bersamanya dan disaat diatas gunung yang tinggi aku tetap bersamanya bahkan didataran yang indah saya kan selalu bersama iman yang sama.Saya tidak akan meninggalkan imanku .
Iman bukan tentang jagonya atau hebatnya seorang pengkotbah berkisah tentang kasih Tuhan ,atau Iman bukan tentang hebatnya seorang yang mampu mengubah arah iman terbaru saya, penawaran terbaik dari Tuhan yang saya imani hanyalah “percalah pada Ku “ yang kubutuhkan “bukan untuk mengubah iman orang lain tuk menjadi bagian dalam iman saya tapi memberikan imanku untuk orang lain tanpa mengubah iman sesorang” Kemerdekaan beriman.
============ untuk bathinku ======================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar